Lonjakan Super Flu Terjadi, Ini Tanda dan Gejala Awal yang Perlu Diperhatikan

Meningkatnya laporan kasus yang populer disebut super flu di Amerika Serikat belakangan ini menarik perhatian komunitas kesehatan global. Meski istilah tersebut ramai digunakan di media sosial dan percakapan publik, para ahli menegaskan bahwa super flu bukanlah istilah medis resmi.

Dalam dunia kesehatan, sebutan super flu umumnya merujuk pada infeksi virus influenza A H3N2 subklade K, varian flu yang dinilai memiliki tingkat penularan lebih cepat serta gejala yang terasa lebih berat dibandingkan influenza musiman pada umumnya.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa istilah super flu muncul dari persepsi masyarakat terhadap beratnya gejala yang dialami pasien.

“Super flu bukan terminologi medis. Istilah ini digunakan masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subklade K yang memang terasa lebih berat,” ujar dr. Piprim.

Baik pakar kesehatan di Indonesia maupun Amerika Serikat sepakat bahwa gejala super flu secara umum mirip dengan influenza A, namun muncul lebih mendadak dan intens. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, menyebutkan beberapa keluhan yang sering dialami pasien, antara lain demam tinggi, kelelahan ekstrem, nyeri otot, menggigil, pilek atau hidung tersumbat, serta nyeri tenggorokan.

Selain itu, pasien juga kerap mengeluhkan sakit kepala, batuk, hidung berair, hingga sensasi panas dingin yang hebat. Kondisi tersebut membuat banyak penderita terpaksa menghentikan aktivitas selama beberapa hari.

Ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, Ph.D., menjelaskan bahwa virus H3N2 memang dikenal lebih agresif, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

“H3N2 umumnya menyebabkan gejala yang lebih berat di semua kelompok usia, khususnya pada anak kecil dan orang lanjut usia. Jika aktivitas virus ini meningkat sejak awal musim, itu menjadi sinyal yang mengkhawatirkan,” ungkap Pekosz, dikutip dari TODAY.

Ia menambahkan, mutasi pada subklade K membuat gejala flu terasa sangat intens dan muncul secara tiba-tiba. Banyak pasien menggambarkan kondisinya sebagai kelelahan ekstrem yang datang mendadak.

Salah satu alasan flu ini dijuluki “super” adalah kecepatan penularannya. Dr. Nastiti menjelaskan bahwa virus menyebar melalui droplet saat batuk atau bersin, kontak langsung dengan cairan pernapasan, serta sentuhan pada permukaan yang terkontaminasi.

“Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke dua hingga tiga orang di sekitarnya, bahkan bisa lebih,” jelasnya.

Para ahli juga mengingatkan bahwa gejala super flu dapat menyerupai Covid-19 atau infeksi pernapasan lainnya, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis. Flu, menurut Pekosz, bukan penyakit ringan yang bisa diremehkan.

“Flu bukan sekadar pilek. Pada kondisi tertentu, flu bisa menjadi sangat serius,” tegasnya.

Umumnya, influenza dapat pulih dalam waktu lima hingga tujuh hari. Namun masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi berkepanjangan, tanda dehidrasi, atau gangguan pernapasan.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Piprim menekankan pentingnya kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti yang telah dilakukan selama pandemi.

Kebiasaan mencuci tangan, memakai masker saat sakit, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan dinilai masih efektif untuk menekan penyebaran virus. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengenali gejala sejak dini, masyarakat diharapkan dapat melindungi diri serta lingkungan sekitar dari dampak flu yang tidak bisa dianggap sepele.

Comments

Popular posts from this blog

Desain Rumah Masa Kini Semakin Lengkap Dengan Sentuhan Taman Elegan

Memetakan Karakter Para Followers TikTok untuk Meningkatkan Engagement